<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586</id><updated>2012-02-17T02:53:03.964+07:00</updated><title type='text'>Editing</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-2260477661633276588</id><published>2008-09-15T05:50:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T05:51:34.434+07:00</updated><title type='text'>SIRKUIT INTERNASIONAL LOSAIL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sirkuit Internasional Losail terletak di pinggir kota Doha – Qatar yang dibangun kurang dari setahun oleh 1000 pekerja.  Sirkuit yang menghabiskan dana sebesar 58 juta Dolar ini diresmikan pada tahun 2004 bertepatan dengan perhelatan Grand Prix Qatar.  Dua tahun kemudian sirkuit ini dipergunakan sebagai tempat perhelatan Grand Prix Master Qatar.&lt;br/&gt; Sirkuit sepanjang 5,4 KM dengan lintasan lurus 1.068 M dikelilingi rumput sintesis untuk mencegah masuknya pasir ke dalam lintasan. &lt;br/&gt;   Tahun 2007, Losail mulai dilengkapi sistem penerangan dari Musco Lighting untuk mendukung perhelatan di malam hari dan berhasil mengukir sejarah pada ajang MotoGP Qatar 2008.  Sirkuit ini diklaim sebagai sebuah arena olahraga dengan sistem penerangan tercanggih di dunia.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;INFORMASI SIRKUIT&lt;br/&gt;1.Data Lintasan&lt;br/&gt;Panjang: 5.380 KM&lt;br/&gt;Lebar: 12 M&lt;br/&gt;Lintasan Lurus: 1.068 M&lt;br/&gt;Jmlh. tikungan: 16&lt;br/&gt;Tikungan kanan: 10&lt;br/&gt;Tikungan kiri: 6&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2.Informasi Umum&lt;br/&gt;40 buah pit berukuran 15x6 M, full A/C dan fasilitas moderen&lt;br/&gt;82 unit kantor tim berukuran 6x6 M, full A/C dan fasilits moderen&lt;br/&gt;2 VIP area, masing-masing seluas 900 M persegi&lt;br/&gt;200 kursi di ruang pers &lt;br/&gt;30 kursi di ruang fotografer yang dilengkapi 1 panel ke 5 monitor TV&lt;br/&gt;Ruang Locker&lt;br/&gt;23 kamera CCTV di sepanjang lintasan&lt;br/&gt;Medical center&lt;br/&gt;Restoran &lt;br/&gt;   &lt;br/&gt;SEJARAH BALAPAN&lt;br/&gt;1.MotoGP Qatar 2007&lt;br/&gt;Pemenang: Casey Stoner (Ducati), kec. rata-rata = 164,975 km/jam&lt;br/&gt;Pole position: V. Rossi (Yamaha), waktu = 1:55:002 menit, kec. rata-rata = 168,414 km/jam&lt;br/&gt;Lap tercepat: C. Stoner (Ducati), waktu = 1:56:528 menit, kec. rata-rata = 166,208 km/jam&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;2.MotoGP Qatar 2006&lt;br/&gt;Pemenang: V. Rossi (Yamaha), kec. rata-rata = 163, 742 km/jam&lt;br/&gt;Pole position: Casey Stoner (Honda), waktu = 1:55:683 menit &lt;br/&gt;Lap tercepat: V. Rossi (Yamaha), waktu = 1:57:305 menit, kec. rata-rata 165,108 km/jam&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;3.MotoGP Qatar2005&lt;br/&gt;Pemenang: V. Rossi (Yamaha), kec. rata-rata = 163,020 km/jam&lt;br/&gt;Pole position: L. Caporossi (Ducati), waktu = 1:56:917 menit &lt;br/&gt;Lap tercepat: N. Hayden (Honda), waktu = 1:57:903 menit, kec. rata-rata = 164,270 km/jam&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;4.MotoGP Qatar2004&lt;br/&gt;Pemenang: S. Gibernau (Honda), kec. rata-rata = 161, 293 km/jam&lt;br/&gt;Pole position: C. Checa (Yamaha), waktu = 1:58:988 menit &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;sumber :&lt;br/&gt;http://www.circuitlosail.com/index.php?page=circuit-info&lt;br/&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Losail_International_Circuit&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-2260477661633276588?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/2260477661633276588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=2260477661633276588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/2260477661633276588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/2260477661633276588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/sirkuit-internasional-losail.html' title='SIRKUIT INTERNASIONAL LOSAIL'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-384777987230476842</id><published>2008-09-15T05:49:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T05:50:20.223+07:00</updated><title type='text'>MOMEN PERTEMUAN MAHFOUZ DAN COELHO</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;oleh: Mohamed Salmawy&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Hal pertama yang diucapkan penerima Nobel Naguib Mahfouz pada sabahatnya Paulo Coelho dari Brazil adalah, “Jenggot Anda sama seperti jenggot saya.”  Kemudian Coelho menjawab, “Sama warnanya, abu-abu.”  Keduanya tertawa dan itulah mencairkan kebekuan diantara mereka.&lt;br/&gt; Kedua penulis itu telah mencapai penghargaan kesusasteraan tertinggi.  Mahfoudz menggambarkan nasionalisme yang begitu dalam sehingga dapat memilah makna universal, sementara Coelho membebaskan diri dari pembatasan manusiawi, terutama seputar pencarian diri yang tersimbolisasikan dalam The Alchemist.  Novel itu menceritakan harta karun yang membawa tokohnya berpetualang dari Spanyol sampai ke Gurun Mesir.&lt;br/&gt; Inilah isi perbincangan keduanya: &lt;br/&gt; &lt;br/&gt; “Novel-novel Anda sangat menghanyutkan saya.  Berbeda sekali saat saya membaca novel lainnya.” Ujar Coelho.&lt;br/&gt; Mahfoudz menjawab, “Anda berhasil mempengaruhi dunia dengan karya-karya Anda.  Telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa dan terjual lebih dari 60 juta eksemplar.  Itu artinya para pembaca Anda ada sekitar…” &lt;br/&gt; Coelho memotong, “Anda sudah meraih Nobel, saya belum.” &lt;br/&gt; Mahfoudz menyahut dengan nada serius, “Naluri saya mengatakan Anda akan mendapatkannya.  Semua kriteria sudah Anda miliki dan yang lebih penting, novel Anda itu humanis.  Bernilai cinta dan perdamaian manusia, selain juga berhasil mempengaruhi persepsi pembaca.”&lt;br/&gt; Coelho tertawa dengan penuh penghargaan.  “Akan saya sampaikan pada komite Nobel sebagai bentuk pencalonan saya jika memang pemenang Nobel dapat menominasikan penulis lain.” &lt;br/&gt;  Mahfoudz menjawab, “Saya biasa menerima surat dari Komite yang menanyakan nominasi untuk Nobel Sastra, tapi  tak pernah saya tanggapi.  Mereka akhirnya menyerah dan tak pernah lagi mengirimkan surat seperti itu.” &lt;br/&gt; “Mengapa Anda tidak pernah mengajukan nominasi Anda sendiri?” Tanya Coelho. &lt;br/&gt;  “Penghargaan itu bukan atas nama pribadi.  Biarkan saja lembaga yang berwenang melakukannya.  Jadi para nominasi juga menerima hadiah yang sepantasnya.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt; Ada satu pertanyaan saya (penerj: Muhammad Salmawy) untuk Coelho: “Anda mengatakan sudah membaca seluruh novel terjemahan Mahfoudz dalam bahasa Portugis.  Menurut Anda, apakah ada kesamaan dengan novel-novel Anda?”&lt;br/&gt; “Kami berdua cenderung membangun jembatan kemanusiaan dengan membangkitkan ketertarikan terhadap manusia ketimbang menyoroti ide-ide abstrak, doktrin, maupun ideologi.  Misalnya, bagi saya pribadi, hal terpenting saat mengunjungi negara lain adalah untuk mengenal masyarakat lokal.  Jika saya diminta memilih antara musium dengan kafe.  Saya pilih kafe.” Jelas Coelho.  Dia kemudian melanjutkan, “Kafe juga tempat favorit Mahfouz karena alasan yang sama.  Dia menjelajahi seluruh pelosok Kairo selama bertahun-tahun dengan berjalan kaki.  Dia selalu mengatakan tak pernah sempat lagi membaca, tapi ada seorang teman psikiater yang menceritakan novel The Alkhemist dengan begitu rinci seolah-olah dia telah membacanya.  Apa yang mengusik rasa ingin tahunya adalah gagasan tokoh mencari harta karun.”&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;      “Saya sudah membaca novel The Road.  Saya merasa tersindir karena novel itu juga seputar pencarian, tapi pencarian ayah.  Sebuah pencarian yang lebih nyata, pencarian jati diri, pencarian yang sama dengan posisi tokoh saya.” Ujar Coelho.&lt;br/&gt;  “Masing-masing manusia memiliki harta karun yang ditemukan dari sebuah pencarian panjang.” Ujar Mahfouz. &lt;br/&gt; “Harta karun yang terpendam dalam diri manusia.” Tambah Coelho.&lt;br/&gt; “Itulah harta karun sebenarnya, ketika ditemukan takkan mungkin hilang.” Jawab Mahfouz.&lt;br/&gt; “Pernahkah tema ini muncul dalam tulisan Anda?” Tanya Coelho.&lt;br/&gt; “Pencarian seperti ini terdapat dalam novel Ibn Fattouma’s Journey.” Jawab Mahfouz.&lt;br/&gt; “Saya harus membaca novel itu karena saya menyukai tulisan Anda yang memuat kedalaman psikologis yang unik.  Satu ciri penulis besar.” Puji Coelho.&lt;br/&gt; Mahfuz terdiam seraya mencari kalimat untuk membalas pujian tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Pada saat itulah, Coelho menjawab pertanyaan saya (penerj: Muhammad Salmawy):   "Anda ingin mengetahui kesamaan dari kami berdua.  Keputusan tersulit yang harus dibuat seorang penulis adalah menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama.  Keputusan itu membutuhkan kemantapan hati sebelum memasuki sebuah kehidupan yang terpencil.  Inilah alasannya saya tetap berdiskusi dengan banyak orang setiap kali saya mendapatkan kesempatan itu.  Saya paham Mahfouz juga berada di posisi itu.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Mahfouz pun berkata, "Saya tetap menemui teman-teman saya seminggu sekali, meski kondisi kesehatan tidak memungkinkan.  Hidup saya sangat menyedihkan." &lt;br/&gt; Coelho melihat sebungkus rokok di saku Mahfuz lalu berkomentar, "Saya senang Anda masih bisa merokok." Mahfuz menjawab dengan raut sedih, "Dokter hanya mengijinkan 2 batang setiap hari." &lt;br/&gt; Coelho yang sanggup menghabiskan 10 batang rokok setiap hari di usia 58 tahun mengatakan bahwa seorang pria berusia 93 tahun seperti Mahfouz membuatnya optimis.  Keduanya kembali tertawa&lt;br/&gt; Soal perbedaan tulisannya dengan Mahfouz, Coelho menjawab, “Saya tidak tahu.  Mungkin Mahfouz telah menulis lebih dari 40 novel sementara saya hanya menulis seperempatnya. &lt;br/&gt; Coelho menanyakan pada Mahfouz mengapa belum juga menulis autobiografi.    Lalu dijawab, “Saya lebih memilih menulis novel.”  Coelho lalu menanyakan soal Echoes of Authobiography yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.  Mahfouz menjawab, “Hanya gemanya saja.  Autobiografi saya sama sekali tidak menarik, dan saya juga tidak mau menulisnya.” &lt;br/&gt; Menurut Mahfouz, ada perbedaan antara tulisannya dengan tulisan Coelho dengan kembali menekankan bahwa dia belum membaca buku itu secara langsung.  “Bedanya adalah kesederhanaan dari kedalaman ceritanya&lt;br/&gt; Coelho juga menambahkan bahwa itu adalah ambisinya mencapai kedeserhanaan dan komplikasi misterius di balik sebuah gurun. &lt;br/&gt;  Sebelum berpisah, Coelho menatap Mahfouz lalu mengatakan, “Pertama kali saya datang ke mesir pada tahun 1978.  Saya menyentuh Piramida.  Ketika kembali ke Brazil, ide untuk The Alchemist hadir dalam benak saya dan langsung saya tuangkan ke dalam tulisan.  Ini kunjungan kedua saya dan sangat berarti.  Sama halnya ketika terinspirasi dengan Piramida.”&lt;br/&gt; Coelho lalu membubuhkan tanda tangannya pada novel The Alchemist versi bahasa Arab terbitan Beirut disertai kata-kata: "Untuk sosok yang telah mengajarkan banyak hal." Buku itu dihadiahkan untuk Mahfouz.  Sebagai balasannya, Mahfouz memberikan buku terbarunya, Dream Recuperation, versi bahasa Perancis.  Ketika Coelho menunduk dan berusaha mencium tangan Mahfouz setelah membubuhkan tanda tangan, Mahfouz cepat-cepat menarik tangannya dan membungkukkan badan sebagai penghormatan.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Diterjemahkan dari You Have Grown Your Beard  oleh Muallaqat Projection of  The Arab World. &lt;br/&gt;Sumber : al-Ahram Weekly  2 - 8 June 2005 Issue No. 745 &lt;br/&gt;* Seorang jurnalis Surat Kabar Al-Ahram&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-384777987230476842?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/384777987230476842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=384777987230476842' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/384777987230476842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/384777987230476842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/momen-pertemuan-mahfouz-dan-coelho.html' title='MOMEN PERTEMUAN MAHFOUZ DAN COELHO'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-5568760941918572538</id><published>2008-09-15T05:45:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T05:47:03.908+07:00</updated><title type='text'>SERSA-SERBI WAWANCARA DENGAN NAJIB MAHFOUZ</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENGANTAR&lt;br/&gt; Dalam satu kesempatan tatap muka dengan Najib Mahfouz, Nadine Gordimer - penerima Nobel sastra tahun 1991- menyebutkan bahwa Mahfouz merupakan salah satu bakat kreatif terbesar dalam khasanah novel dunia.  Komite Nobel Sastra pun menyatakan, "Posisi Najib Mahfuz sebagai juru bicara prosa Arab tak tersaingi oleh siapa pun.  Dia berhasil mencapai standar keunggulan internasional melalui karya-karyanya yang berisi potret tradisi Arab klasik, inspirasi Eropa, sampai gaya artistik individual.” &lt;br/&gt; Najib Mahfouz menerima Nobel Sastra tahun 1988.  Melalui 41 karya (yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa), Mahfouz disebut-sebut telah memperkaya peradaban manusia, baik di negerinya maupun secara global.  Hal paling menakjubkan seputar Mahfouz terletak pada ketekunan, disiplin, dedikasi, dan kerja kerasnya selama lebih dari setengah abad.  Ini pun ditegaskan juga oleh seorang profesor Sastra Prancis sekaligus kritikus sastra asal Mesir Amina Rachid, “Selain seluruh prestasinya, kekaguman saya akan Mahfouz terletak pada dua hal, kerja keras dan ketekunannya.”&lt;br/&gt; Mahfouz meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2006 setelah sempat dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.  Roger Allen - seorang profesor sastra Arab dari Pensylvania University sekaligus penerjemah beberapa karya Mahfouz - berkata dengan sedih, “Hari yang kita takutkan akhirnya tiba.  Najib Mahfuz, seorang sastrawan Mesir yang luar biasa, penerima Nobel Sastra tahun 1988, novelis, intelektual, humanis, seorang yang beriman, dan selalu menunjukkan keramahannya, telah pergi dari kehidupan kita.  Dia telah berada di kedamaian abadi,  Allah yarhamuh.”  Meski demikian, seseorang penulis besar tak akan pernah mati.  Tulisan-tulisannya akan terus dikaji.  Sosoknya akan terus dikenang.  Kata-katanya akan terus bergema menembus batasan ruang dan waktu persis seperti ucapan seorang sastrawan Indonesia, Pramudya Ananta Toer, “Menulislah, karena dengan menulis kau mencipta keabadian.”&lt;br/&gt; Untuk mengenang satu tahun wafatnya Mahfouz, Muallaqat Forum Jogjakarta berinisiatif mengumpulkan sejumlah wawancara media maupun personal bersama Najib Mahfouz.  Sebagian besar materi wawancara diperoleh melalui situs surat kabar di Mesir, Al-Ahram.  Sisanya dikompilasikan dari situs-situ lain serta kontribusi beberapa kolega (www.al-ahramweekly.org dan www.nobel.org).&lt;br/&gt;  Kompilasi kutipan wawancara dibagi ke dalam beberapa kategori, antara lain: kesusastraan, proses kreatif, pencapaian, agama, serta kemanusiaan.  Kompilasi ini diharapkan dapat berguna bagi pada pengkaji, peminat, dan penikmat kesusastraan Arab dalam menyelami pemikiran Najib Mahfouz tak hanya sebatas tulisan-tulisannya, tapi juga gagasan-gagasan lisan.  Selamat membaca! &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;TENTANG NOBEL &lt;br/&gt; Berikut ini adalah petikan wawancara Muhammad Salmawy (editor sastra surat kabar Al-Ahram, Mesir) dengan Mahfouz seputar kesan-kesannya setelah menerima Nobel Sastra tahun 1988. &lt;br/&gt;Salmawy: Apa yang mendorong Anda menjadi penulis dan siapa saja yang menginspirasikan karier Anda?&lt;br/&gt;Mahfouz: Saya mulai menulis ketika masih sekolah.  Saya terinspirasi oleh para penulis Arab kontemporer seperti El-Manfalouti, Taha Hussein, dan El-Aqqad. Mereka seolah mengalirkan gairah menulis pada saya.  Oleh karena itu, saat duduk di bangku di sekolah menengah, saya memutuskan pindah dari kelas IPA ke kelas sastra.  &lt;br/&gt;Salmawy: Apa yang Anda rasakan begitu mengetahui bahwa Anda memperoleh Nobel Sastra?&lt;br/&gt;Mahfouz: Saya merasa sangat bahagia sekaligus terkejut.  Saya tak pernah menyangka akan mendapatkannya.  Selama ini Nobel selalu diberikan pada para penulis kaliber, seperti Anatole France, Bernard Shaw, Ernest Hemingway, William Faulkner, Jean-Paul Sartre dan Albert Camus.  Saya juga pernah mendengar bahwa suatu saat nanti seorang penulis Arab akan memperoleh Nobel, tapi saya meragukannya.&lt;br/&gt;Salmawy: Bukankah pada sebuah wawancara televisi Abbas Mahmoud El-Aqqad pernah mengatakan bahwa Anda layak menerimanya? Padahal wawancara itu terjadi 20 tahun lalu. &lt;br/&gt;Mahfouz:  El-Aqqad terlalu berlebihan.&lt;br/&gt;Salmawy: Apakah pencapaian Nobel berpengaruh terhadap kehidupan dan karya-karya Anda berikutnya?&lt;br/&gt;Mahfouz: Ya. Nobel semakin mengukuhkan tekad saya untuk terus menulis. Tapi sayang saya menerimanya di akhir karir kepenulisan saya.  Buku yang saya rampungkan sejak menerima Nobel hanya Echoes of an Autobiography.  Saat ini saya tengah menyelesaikan Dreams of Recuperation.  Novel Qushtumur, yang dimuat secara berseri di Al-Ahram, saya rampungkan sebelum mendapatkan penghargaan itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku setelah memenangkan Nobel.  Meski demikian, Nobel bagi saya telah membentuk gaya hidup baru yang belum pernah saya jalani dan tak pernah saya bayangkan.  Saya harus menghadiri banyak wawancara dan pertemuan yang diadakan oleh media.  Saya sebenarnya memilih bekerja dalam ketenangan.  &lt;br/&gt;Salmawy: Secara umum, apa pengaruh karya-karya Anda pada kesusastraan Mesir setelah Anda memenangkan Nobel?&lt;br/&gt;Mahfouz: (tertawa) Pertanyaan ini seharusnya Anda ajukan pada para kritikus.  Hanya mereka yang berhak apakah karya-karya saya mempengaruhi kesusastraan Arab atau tidak.  Tapi barangkali salah satu efeknya adalah makin banyak karya sastra Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain.  Saya mengetahui hal ini dari seorang tamu Rusia, juga dari orang-orang Jerman yang berkunjung ke Mesir sekaligus mengundang saya menghadiri Frankfurt International Book Fair yang tengah dipersiapkan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;TENTANG SASTRA, PENCEKALAN KARYA, DAN KARIER DI DUNIA FILM&lt;br/&gt;Salmawy: Dalam kehidupan moderen sering terlontar anggapan bahwa kesusastraan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan sains.  Dengan kata lain, kesusastraan adalah hal minor, sesuatu yang tidak diperlukan oleh banyak orang.&lt;br/&gt;Mahfuz: Tidak bisa disangkal jika dikatakan bahwa status novelis mengalami kemunduran. Ini merupakan fenomena yang sangat disayangkan.  Kesusastraan adalah sesuatu yang sangat vital dan tak bisa tergantikan oleh sains atau apapun.  Fungsi sastra dalam suatu masyarakat hanya bisa diisi oleh sastra itu sendiri.  Tidak mungkin ada masyarakat yang hidup tanpa itu.  Jika Anda mengamati kehidupan masyarakat primitif, Anda bisa menemukan kesusastraan walaupun mereka buta huruf.  Di pedesaan, masyarakat berkumpul mengelilingi seorang pendongeng untuk mendengarkan berbagai cerita rakyat seputar kepahlawanan.  Saya tidak bisa membayangkan kehidupan manusia tanpa kesusastraan.  Perubahannya hanya terletak pada media penyampainya, yaitu dari lisan ke era tulisan.  &lt;br/&gt;Salmawy:  Lalu apa arti sastra bagi seseorang? Banyak orang yang sepanjang hidupnya tak pernah membaca novel dan mereka tak merasa ada sesuatu yang kurang.&lt;br/&gt;Mahfouz:  Manusia bukan hanya tubuh. Manusia adalah susunan dari jiwa, kesadaran, dan pikiran. Manusia tidak hanya hidup dari makanan.  Akses terhadap kesusastraan tidak tertutup hanya karena orang yang tak suka atau tak bisa membaca.  Barangkali secara oral atau visual seperti yang terjadi dalam film.  Kesusastraan sangat penting bagi kehidupan manusia karena memperhalus pribadi mereka.  Kesusastraan menyumbangkan nilai yang tak bisa disumbangkan oleh dunia ekonomi, politik, atau sains.  Aristoteles mengatakan bahwa kesusastraan memiliki pengaruh luar biasa pada jiwa manusia yang disebutnya katarsis.  Kesusastraan membersihkan manusia, memperhalus perasaannya, dan memberikan kehormatan padanya.&lt;br/&gt;Salmawy: Bagaimana dengan kejeniusan literer? Apakah itu sebuah fenomena khusus?&lt;br/&gt;Mahfuz:  Mari kita bicara tentang kreativitas literer ketika kejeniusan merupakan langkah maju. Hal yang membedakan penulis dengan orang kebanyakan adalah rasa sensitif.  Empati penulis terhadap sekelilingnya lebih besar jika dibandingkan dengan orang lain. Selain itu, mereka juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.  Contohnya saja jika kita semua melihat bulan, para penulis akan tergerak untuk menulis puisi tentangnya yang takkan pernah dirasakan jika hanya sebatas mengamati.&lt;br/&gt;Salmawy: Mengenai novel Aulad Haratina. Benarkah novel tersebut dicekal oleh Al-Azhar atau Anda memang sengaja tidak menerbitkannya?&lt;br/&gt;Mahfouz:  Awalnya, novel itu dimuat secara bersambung di Al-Ahram sekitar tahun 1959 yang memicu reaksi keberatan dari beberapa ulama Al-Azhar.  Tapi, Muhammad Husenain Haikal, editor Al-Ahram, bersikeras tetap menerbitkan seluruhnya. Setelah itu barulah Hasan Sabri El-Khali memanggil saya. &lt;br/&gt;Salmawy: Apakah saat itu kapasitasnya sebagai juru bicara presiden Gamal Abdul Nasser?&lt;br/&gt;Mahfouz: Bukan. Waktu itu dia masih menjabat sebagai kepala penerbitan buku dan surat kabar di Dinas Penerangan.  Saya berhubungan baik dengannya.  Kantor kami saling berdekatan.  Kebetulan kami berdua menempati gedung yang sama di jalan Talaat Harb.  Suatu hari saya diundang ke kantornya.  Dia mengatakan bahwa beberapa ulama Al-Azhar bermaksud mendiskusikan novel tersebut dengan saya.  Saya bersedia dan segera mengatur tanggal pertemuan. Pada waktu yang telah ditentukan, saya mendatangi ke kantor El-Khali lalu menunggu kedatangan mereka. Tapi, tak satu pun yang datang.  Setelah itu, El-Kholi mengatakan lebih baik saya melupakan mereka.  Kami pun mendiskusikan novel tersebut hingga sampai pada pernyataan bahwa sebagai Kepala Penerbitan Dinas Penerangan, dia melarang penerbitan novel tersebut di Mesir.  Sama sekali bukan karena tekanan dari Al-Azhar. Dia juga mengatakan saya boleh menerbitkan novel tersebut di luar negeri.  Inilah kesepakatan yang hingga saat ini masih saya hormati.&lt;br/&gt;Salmawy: Tapi bukankah sensor buku kini semakin jarang dan El-Kholi pun telah meninggal?&lt;br/&gt;Mahfouz: Saya tidak menerbitkannya di Mesir bukan semata alasan sensor maupun tekanan Al-Azhar, tapi karena kesepakatan itu.&lt;br/&gt;Salmawy:  Banyak penulis merasa keberatan pada sikap Al-Azhar tersebut.&lt;br/&gt;Mahfouz: Al-Azhar tidak memiliki otoritas.  Jika saya mau, novel tersebut pasti akan diterbitkan versi Al-Ahram atau orang-orang sesudahnya.  Hanya Al-Ahram yang menerbitkan novel tersebut dengan izin penuh dari saya.&lt;br/&gt;Salmawy: Para ulama Al-Azhar menyatakan bahwa mereka bersedia membaca kembali novel itu jika Anda yang memintanya. &lt;br/&gt;Mahfouz: Saya tidak akan melakukannya.  Itu kewajiban penerbit. Jika saya meminta Al-Azhar sama saja mengakui hak yang tak mereka miliki.  Saya tidak memperdulikan himbauan Al-Azhar. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Barmawy Munthe, pengajar UIN Jogjakarta, yang mengambil topik penelitian mengenai wanita dalam Trilogi Kairo untuk disertasi doktoralnya, berkesempatan mengunjungi Mahfouz dan menanyakan beberapa hal mengenai novel tersebut.&lt;br/&gt;Munthe:   Saya heran melihat kondisi perempuan sekarang dan perubahan mereka setelah Anda menulis Trilogi Kairo.&lt;br/&gt;Mahfouz: Novel itu menggambarkan kaum perempuan dalam berbagai karakter.  Anda melihat karakter perempuan yang tradisional dan patuh, juga ada yang tipe perempuan moderen.&lt;br/&gt;Munthe:  Dalam penelitian, saya membandingkan antara dunia fiksi dan realita sejarah.  Perubahan realita sejarah mendorong perubahan dalam dunia fiksi.  Realitas yang Anda gambarkan dalam novel tersebut sangat dinamis.  Sangat fleksibel dengan menawarkan adanya perkembangan kondisi, tidak hanya sebatas potret.&lt;br/&gt;Mahfouz: Saya menghadirkan 3 generasi perempuan dengan karakter-karakter yang dipengaruhi perkembangan jaman.  Subjek Apa yang akan Anda ajarkan setelah meraih gelar PhD?&lt;br/&gt;Munthe: Tentu saja masih seputar karya-karya Anda yang sangat mengagumkan, dalam, kaya, dan penuh dimensi yang belum sepenuhnya tereksplorasi.  Saya membaca banyak tulisan tentang Anda.  Tapi tiap kali membaca karya-karya Anda, selalu saja saya temukan sesuatu yang baru dan luput dari perhatian.  Novel-novel Anda sangat populer di Indonesia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Seorang peneliti film yang tertarik pada karier Mahfouz sebagai penulis skenario menanyakan tentang motivasi dan kesan Mahfouz saat bekerja di bidang perfilman.&lt;br/&gt;Mahfuz: Tentu saja saya sangat menikmatinya karena film adalah salah satu bentuk seni.  Hal yang menarik bagi saya adalah dramatisasi dalam setiap skenario.  Segala sesuatu yang terjadi dengan dramatisasi terlihat menarik di mata saya.  Itulah karir saya.&lt;br/&gt;Peneliti: Apa perbedaan utama antara menjadi sastrawan dengan penulis skenario?&lt;br/&gt;Mahfuz: Cerita dalam film disusun berdasarkan rangkaian imajinasi visual sementara cerita dalam sastra bergantung pada kemahiran verbal.  Ketika menulis untuk skenario film, kebebasan Anda menjadi terbatasi.  Anda tak dapat menuliskan sesuatu yang sulit ditangkap kamera.  Sementara dalam novel, penulis memiliki kebebasan penuh menceritakan apapun.&lt;br/&gt;Peneliti: Adakah hal yang bisa diungkapkan melalui film tapi tak bisa diceritakan lewat sastra?&lt;br/&gt;Mahfuz:   Tidak ada. Lingkup kesusastraan lebih luas ketimbang film.&lt;br/&gt;Peneliti: Bagaimana pendapat Anda tentang skenario? Apakah skenario juga membutuhkan kreativitas tertentu atau hanya berkutat dengan masalah teknik?&lt;br/&gt;Mahfuz: Skenario merupakan kombinasi dari keduanya. Untuk menulis sebuah skenario, Anda perlu menguasai kemampuan khusus. Untuk dapat menghasilkan skenario yang bagus, Anda harus kreatif.  Sebagian skenario yang saya tulis bergantung pada gagasan yang dikonseptualisasikan oleh sutradara atau saya sendiri. Untuk mengubah gagasan sastra ke dalam format skenario membutuhkan kreativitas khusus. &lt;br/&gt;Peneliti: Bagaimana Anda memperlakukan novel karya penulis lain? Apakah Anda berkeinginan untuk menulis ulang karya mereka dengan gaya Anda sendiri?&lt;br/&gt;Mahfuz: Tentu saja tidak.  Saya harus memberikan kesetiaan pada bentuk teks asli. Menurut saya, lebih baik menulis novel baru ketimbang menulis ulang novel orang lain.  Tapi saya sepakat dengan pengubahan format novel ke dalam skenario sepanjang masih menyisakan keaslian novel tersebut. &lt;br/&gt;Peneliti: Tapi ketika orang lain menulis sebuah skenario berdasarkan novel Anda, mereka melakukannya dengan penuh kebebasan.&lt;br/&gt;Mahfuz: Setiap orang memiliki gaya kerja sendiri-sendiri.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mesir, dan terutama Kairo, merupakan pusat kehidupan Mahfouz. Di sinilah dia hidup dan melakukan segala aktivitasnya. Novel-novel awalnya bergaya realistik yang mengungkapkan sejarah kuno negeri ini.  Bagi Mahfuz, Mesir adalah tumpah darahnya, sumber inspirasi bagi karya-karyanya, dan tempat menyandarkan identitas kemanusiaan. Berikut ini, kesan-kesan Mahfouz mengenai Mesir yang terungkap dalam sebuah wawancara dengan Muhammad Salmawy (editor sastra surat kabar al-Ahram).&lt;br/&gt;Salmawy:  Bagaimanakah cara Anda memandang Mesir?&lt;br/&gt;Mahfuz: Mesir bukanlah sekedar wilayah geografis.  Mesir adalah pencipta peradaban.  Inilah yang menyebabkan Mesir dijuluki sebagai induk bumi (the mother of the earth).  Mesir menempati tempat terhormat di antara negara-negara lain di dunia, seperti halnya penghormatan kepada orang tua Anda.  Anda akan tetap menghormati keduanya meskipun Anda lebih kaya, lebih pintar, serta lebih berkuasa.  Negeri ini hanya berwujud sebuah garis tipis sepanjang lembah sungai Nil sementara sisanya merupakan gurun pasir yang tidak bisa dihuni.  Persoalan bukan terletak pada luas daerah, melainkan pada semangat orang-orang yang menghuninya. Garis tipis tersebut menciptakan nilai-nilai moral, konsep monoteisme, kesenian, sains, dan sistem administrasi yang mengagumkan.  Faktor-faktor inilah yang menyebabkan rakyat Mesir bisa bertahan di saat kebudayaan negeri-negeri lain musnah. &lt;br/&gt;Salmawy: Apa rahasianya hingga Mesir bisa berbuat seperti itu?&lt;br/&gt;Mahfuz: Rakyat Mesir bisa mempelajari cara menyerap sari pati tanah.  Mereka sangat peduli pada kehidupan dan tahu cara memeliharanya.  Rakyat Mesir kuno telah menemukan sistem pertanian dan menyembah tumbuhan.  Mereka merupakan komunitas hijau pertama di dunia.  Melalui sejarah, orang-orang Mesir merasa bahwa misi mereka adalah memelihara kehidupan dan merasa bangga dengan hal itu.  Hadirnya moralitas jauh sebelum agama-agama besar tak sebatas sebagai sistem untuk mengontrol dan mengendalikan manusia, tapi sekaligus perlindungan untuk mencegah kekacauan dan kematian.&lt;br/&gt;Salmawy: Sepanjang sejarah, Mesir juga dipengaruhi oleh peradaban lain. Menurut Anda, peradaban manakah yang memiliki pengaruh terbesar?&lt;br/&gt;Mahfuz: Peradaban Islam. Islam masuk ke Mesir membawa kepercayaan Semitik yang baru bagi rakyat Mesir.  Keadilan dan kesetaraan seluruh umat manusia, misalnya landasan prinsip Islam.  Islam tidak membedakan warna kulit, etnis, ataupun kekayaan.  Di hadapan Tuhan, penguasa dan subjek peribadatan setiap orang setara.  Mesir tetap mempertahankan beberapa karakter asli setelah penaklukan Islam.  Islam merekonstruksi karakter rakyat Mesir tanpa melenyapkan akar-akarnya. Pengaruh Islam pada rakyat Mesir melebihi apapun yang terjadi di Mesir sejak masa Fira’un.&lt;br/&gt;Salmawy: Apakah Mesir dengan peradabannya yang luar biasa juga mempengaruhi Islam?&lt;br/&gt;Mahfuz: Mesir memberi suara baru pada Islam.  Mesir tidak mengubah prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, tapi budaya Mesir memberi sebuah nafas baru.  Sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tanah Arab.  Mesir mengembangkan Islam yang moderat, toleran, dan tidak ekstrem. Penduduk Mesir merupakan pemeluk yang saleh, tapi mereka tahu cara memadukan kesalehan dan kegembiraan, seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang di masa lampau.   Rakyat Mesir merayakan hari raya dengan cerdas.  Festival keagamaan dan bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk merayakan kehidupan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menegangnya hubungan Islam-Barat yang dipicu oleh serangkaian aksi terorisme juga mendapat perhatian dari Mahfouz.  Dalam wawancara berikut akan dibahas masalah-masalah tersebut serta sedikit menyinggung tentang pencekalan novelnya. Wawancara ini dilakukan oleh seorang jurnalis Barat yang tak disebutkan namanya dalam situs Al-Ahram. &lt;br/&gt;Jurnalis: Bagaimana Anda melihat prospek hubungan Barat-Timur dalam pergolakan dunia saat ini?&lt;br/&gt;Mahfuz: Seni dan budaya merupakan hal esensial bagi tumbuhnya rasa saling memahami.  Tak ada sesuatu pun yang dapat menggugah seseorang kecuali hal-hal yang menyentuh hatinya.  Kami memahami karakter masyarakat Barat lebih baik ketimbang pemahaman mereka terhadap kami. &lt;br/&gt;Jurnalis: Sejak penganugerahan Nobel Sastra untuk Anda di tahun 1988, masyarakat Barat menjadi lebih familier dengan karya sastra dan budaya Arab karena karya sastra memotret seluruh aspek kehidupan masyarakat.  Karya-karya Anda telah membantu kami tidak hanya untuk memahami kesusastraan Arab, namun juga memberikan wawasan mengenai masyarakat Anda.  Trilogi Kairo, misalnya, menghadirkan potongan peristiwa penting selama periode dua perang besar di Mesir.  Sayangnya, pemahaman baru dalam novel Anda ini dirusak oleh sebuah konflik yang terjadi antara peradaban Barat dan Muslim. Sejak peristiwa 9/11 (pengeboman WTC), para pemimpin negara maju berulang kali menyatakan bahwa Islam adalah musuh utama. Menurut Anda adakah harapan untuk mengembalikan keadaan saling memahami tersebut?&lt;br/&gt;Mahfuz: Tentu saja saya menyadarinya. Dunia kita sedang sakit, dalam arti dalam keadaan yang tidak sesuai harapan.  Kelak ketika semuanya pulih, niscaya kita akan berusaha untuk saling memahami kembali.  Kita tahu bahwa pada akhirnya perang hanya akan berujung pada kolonialisme.  Fenomena ini tampak seperti sebuah upaya yang dilakukan oleh suatu kekuatan untuk membangun imperium baru dengan cara-cara klasik.  Tapi di tengah konflik Barat-Timur ini, kami masih mendengarkan musik mereka dan memberikan apresiasi pada film-film asing.  Di sana pun buku-buku kami pun masih diterjemahkan. Perlu diingat masih ada upaya para intelektual Barat untuk memahami masyarakat Arab dan Islam.&lt;br/&gt;Jurnalis:  Bagaimana dengan penyebaran ekstremisme di berbagai tempat?&lt;br/&gt;Mahfuz: Ketika keadilan terpelihara dengan baik, maka ekstremisme akan hilang sebab itu adalah produk ketidakadilan.&lt;br/&gt;Jurnalis: Anda pun dilukai oleh tangan-tangan ekstremis.  Salah satu novel Anda sampai hari ini tidak diterbitkan di Mesir karena pihak yang tidak menyetujui karya tersebut.&lt;br/&gt;Mahfuz: Itu sebuah kasus khusus dan saya tidak merisaukannya.  Masyarakat tidak harus membaca sebuah novel yang mereka anggap tidak harus dibaca hingga suatu saat pendapat mereka berubah. Tugas saya menulis dengan mempergunakan penilaian artistik meski banyak orang merasa tidak nyaman. Saya hanya menulis hal-hal yang saya yakini bukan yang lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wawancara berikut ini diterbitkan oleh Surat kabar mingguan Al-Ahram sesaat sebelum wafatnya Najib Mahfouz. Dia kembali diwawancarai oleh Muhammad Salmawy, redaktur sastra, surat kabar tersebut. &lt;br/&gt;Salmawy: Setelah kemajuan sains dan teknologi, masihkah ada tempat untuk agama di dunia materialistik ini?&lt;br/&gt;Mahfuz: Di masa modern peran agama menjadi semakin krusial.  Manusia telah membuat kemajuan luar biasa yang tak tercapai di masa lalu.  Kekuatan ini bisa dipergunakan sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan kemanusiaan atau disalahgunakan menjadi alat untuk mencapai segala macam kepentingan.  Ketika kekuatan ini dipisahkan dari moralitas, pencarian materi hanya akan melahirkan bencana, seperti yang terjadi pada Perang Dunia dan konflik-konflik lain.  Seluruh kejahatan dan kekerasan yang terjadi di sekeliling kita merupakan hasil dari pemisahan antara kepentingan dan prinsip.  Ketika manusia mempergunakan kekuatannya sesuai dengan prinsip agama, maka hasilnya akan bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br/&gt;Salmawy: Dapatkah agama digantikan oleh filsafat yang berdasar pada prinsip-prinsip kemanusiaan?&lt;br/&gt;Mahfuz: Memang ada ajaran-ajaran filsafat yang mengangkat isu-isu moral.  Tapi jika diamati sebenarnya filsafat sangat dipengaruhi oleh agama. Jacques Rousseau, misalnya, tidak bisa dipisahkan dari Kristianitas, demikian pula Francis Bacon. Di samping itu, ada perbedaan antara menyandarkan diri pada filsafat dan percaya pada suatu keyakinan (agama).  Moralitas manusia sangat luar biasa, tapi hanya orang-orang beragama yang rela mati demi membela agamanya.  Anda membutuhkan kepercayaan, tak hanya sebagai komitmen intelektual, tapi juga untuk berkorban.  Inilah yang menyebabkan banyak filsuf tetap menghargai kekuatan iman.  Seorang filsuf Prancis yang hidup pada abad 19, Victor Cousin, mengatakan bahwa kita membutuhkan agama demi tujuan agama itu sendiri.  Kepercayaan bertempat dalam hati bukan dalam pikiran.  Kaum sufi tidak menganalisis kepercayaan mereka, tapi menghidupkannya. Pada awalnya, pengalaman sufistik barangkali diawali dengan keraguan, seperti halnya imam Al-Ghazali yang telah menulis 200 buku mengenai berbagai macam topik dan berakhir dengan keteguhan religius.&lt;br/&gt;Salmawy: Apakah Anda pernah mengalami momen keraguan seperti itu?&lt;br/&gt;Mahfuz: Ya, pada saat saya masih remaja.  Saya berusaha menyandarkan keimanan pada logika dan ilmu pengetahuan.  Ini adalah periode yang sangat menyiksa dan berlangsung selama empat atau lima tahun. Tapi saya berhasil melaluinya dan pada akhirnya memperoleh keimanan yang sama dengan Al-Ghazali.  Saya mengikuti kata hati dan mencapai keimanan yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa.&lt;br/&gt;Salmawy: Apakah keimanan selalu berkaitan dengan hati?&lt;br/&gt;Mahfuz: Mereka yang mempercayai moralitas dengan akal pikirannya akan selalu mempertanyakan prinsip-prinsip moralitas.  Mereka mungkin akan melarikan masalah moralitas menjadi kebutuhan akan kebahagiaan. Tapi ketika prinsip-prinsip tersebut datang dari Tuhan, mereka akan memperoleh makna yang lebih dalam.  Tuhan menyimpan makna dalam prinsip-prinsip tersebut, seperti halnya ketika Dia menyimpan makna dalam alam semesta. Tanpa Tuhan, tak ada makna atau nilai-nilai yang bisa bertahan. Alternatif yang bisa disandarkan pada Tuhan hanya absurditas. Alternatif bagi Tuhan hanya ketiadaan makna. (I.Z.I)&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-5568760941918572538?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/5568760941918572538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=5568760941918572538' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/5568760941918572538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/5568760941918572538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/sersa-serbi-wawancara-dengan-najib.html' title='SERSA-SERBI WAWANCARA DENGAN NAJIB MAHFOUZ'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-4846626944066603282</id><published>2008-09-15T05:21:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T05:36:24.053+07:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN DALAM TRILOGI KAIRO</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Barmawy Munthe seorang pengajar pada Universitas Islam Negeri di Indonesia sekaligus pakar kajian karya-karya sastra Najib Mahfuz.  Novel The New Cairo menjadi bahan kajian studinya untuk meraih gelar Master di Universitas McGill, Kanada.  Kini Bermawy tengah menulis disertasi tentang perempuan dalam Trilogi Kairo.  Wawancara berikut berlangsung di Kairo baru-baru ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Saya sangat bangga disebut sebagai pakar karya-karya Anda di Indonesia dan juga mendatangkan rezeki dengan kajian-kajian yang saya tulis.” &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mahfouz (tertawa): “Uang sepertinya penting.”  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Saya heran melihat kondisi perempuan sekarang dan perubahan mereka setelah Anda menulis Trilogi Kairo”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mahfouz: “Novel itu menggambarkan kaum perempuan dalam berbagai karakter.  Anda melihat karakter perempuan yang tradisional dan patuh, juga ada yang tipe perempuan moderen.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Dalam penelitian, saya membandingkan antara dunia fiksi dan realita sejarah.  Perubahan realita sejarah mendorong perubahan dalam dunia fiksi.  Realitas yang Anda gambarkan dalam novel tersebut sangat dinamis.  Sangat fleksibel dengan menawarkan adanya perkembangan kondisi, tidak hanya sebatas potret.”   &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mahfouz: “Saya menghadirkan 3 generasi perempuan dengan karakter-karakter yang dipengaruhi perkembangan jaman.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Saya menyadari bahwa di samping adanya perubahan jaman, juga ada karakter yang statis sehingga berdampak pada generasi berikutnya.  Gambaran perempuan yang ada dalam novel Anda adalah perempuan sangat rajin, pandai, dan berhati keras.  Mereka memperlihatkan kebenaran dan kebaikan dalam berbagai bentuk.  Saya yakin Anda meyakini soal evolusi perempuan.  Tokoh-tokoh Anda berubah secara perlahan-lahan menjadi sosok yang liberal.  Aminah adalah satu fase yang berbeda dari Aisah dan Khadijah.  Susan Hammad dalam al-Sukkariyah atau Jalan Gula juga demikian.  Ketiga fase tersebut terhubung pada satu pesan moral.  Mereka tampil apa adanya tanpa ingin memberontak atau memicu kerusuhan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Jejak para perempuan dalam Trilogi ini berbeda dengan kebebasan perempuan di Barat yang akhir-akhir ini penuh perlawanan.  Alasan perubahan perilaku dan pemikiran tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini terdorong oleh pendidikan.  Putri Abdel Jawad bersekolah di rumah, sedangkan istri Mahmoud belajar di sekolah.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mahfouz: “Subjek Apa yang akan Anda ajarkan setelah meraih gelar PhD?”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Tentu saja masih seputar karya-karya Anda yang sangat mengagumkan, dalam, kaya, dan penuh dimensi yang belum sepenuhnya tereksplorasi.  Saya membaca banyak tulisan tentang Anda.  Tapi tiap kali membaca karya-karya Anda, selalu saja saya temukan sesuatu yang baru dan luput dari perhatian.  Novel-novel Anda sangat populer di Indonesia.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mahfouz: “Apakah sudah ada versi terjemahannya?”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Munthe: “Kami membaca versi bahasa Arab.  Kami belajar bahasa Arab karena itu adalah bahasa Al-Quran.”&lt;br/&gt;Dr. Bermawy Munthe adalah staf pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Indonesia. Wawancara ini dilakukan saat penulisan disertasi untuk gelar doktornya. &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Sumber: Al-Ahram Weekly, 16 - 22 March 2006 Issue No. 786&lt;br/&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-4846626944066603282?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/4846626944066603282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=4846626944066603282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/4846626944066603282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/4846626944066603282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/perempuan-dalam-trilogi-kairo.html' title='PEREMPUAN DALAM TRILOGI KAIRO'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-4639150605375086059</id><published>2008-09-03T08:05:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T08:05:39.435+07:00</updated><title type='text'>KASTIL SALAHUDIN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kastil Salahudin terletak di pesisir pegunungan sekitar 37 KM dari latakia.  Kastil ini dianggap sebagai salah satu kastil paling megah dan romantis di Abad Pertengahan. &lt;br/&gt; Terletak di puncak gunung yang terjal dan strategis bagi pemerintahan Punis di masa lalu yang memerintah sejak tahun 1000 SM hingga direbut oleh Alexander Agung pada tahun 833 SM.  Sejak saat itu tidak banyak diketahui bagaimana nasib kastil ini hingga pada masa kembalinya Bizantium pada abad ke-10 M di bawah pemerintahan Kaisar John Zimisces.  Bizantium berhasil merebutnya dari pemerintahan dinasti Hamdan Aleppo kemudian membangun struktur pertahanan.   Kastil ini kemudian jatuh ke tangan pasukan Salib sekitar abad ke-12.  Pada tahun 1119, kastil Salahudin jatuh ke tangan Robert dari Saone yang diberi wewenang oleh Roger, Pangeran Antiokh.  Pembangunan kastil memberi banyak keuntungan.  Pada tahun 1188 Salahuddin berhasil merebut kastil tersebut dan sejak saat itu terus berada di bawah kekuasaan Islam, dari Salahuddin, Baibar, hingga Qalawun.&lt;br/&gt; Salah satu bagian paling menarik dari benteng ini adalah parit sedalam 28 meter yang menembus bukit batu dibangun pada masa Bizantium (kemungkinan diselesaikan oleh Tentara Salib.)  Parit sepanjang 156 M ke arah timur ini memiliki lebar antara 14-20 M dan memiliki tiang pancang tunggal untuk menyangga jembatan penyeberangan.  Menjelang matahari tenggelam, tiang pancang  ini terlihat sangat indah.&lt;br/&gt; Jalan masuk kastil ini melewati pintu di sebelah selatan benteng. Di sisi kanan pintu masuk terdapat menara yang dahulu dipergunakan sebagai benteng pertahanan Tentara Salib, juga beberapa menara lain tidak jauh dari sana.  Ada sebuah waduk dan beberapa tempat untuk melihat parit raksasa. Tembok ini memiliki ketebalan 5 M dan mengelilingi area seluas 24 meter persegi.  Lebih jauh ke utara, Anda bisa menyaksikan sebuah gerbang tempat jembatan penyebrangan.  Di bagian tengah terdapat benteng Bizantium, waduk-waduk, tempat minum teh Tentara Salib, dan sebuah gereja Tentara Salib yang berdampingan dengan dua kapel Bizantium.&lt;br/&gt; Pada masa kekuasaan Sultan Qalawun ditambahkan sebuah mesjid istana, kamar mandi, halaman dan Iwan yang dibangun.  Restorasi pun dilakukan. &lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-4639150605375086059?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/4639150605375086059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=4639150605375086059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/4639150605375086059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/4639150605375086059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/kastil-salahudin.html' title='KASTIL SALAHUDIN'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-206681566200659743</id><published>2008-09-03T08:04:00.002+07:00</published><updated>2008-09-03T08:05:08.473+07:00</updated><title type='text'>SIDON</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saida (Sidon) yang berjarak 45 km selatan kota Beirut merupakan salah satu kota terkenal dalam sejarah kuno.  Inilah kota di Libanon yang paling misterius karena adanya tragedi penjarahan.  Pada abad ke-19, para pemburu harta karun dan arkeolog amatir memboyong benda-benda bersejarah dan sebagian dapat dilihat di musium asing.&lt;br/&gt; Sidon telah dihuni sejak tahun 4000 SM bahkan mungkin jauh sebelumnya pada masa Neolitikum (6000-4000 SM).  Ini salah satu kota terpenting dan tertua milik Punishia.  Dari sinilah pelabuhan-pelabuhan sebagai pusat perdagangan Mediterania dibangun.  Homer mengagumi kemampuan para perajin kota membuat barang pecah-belah dan benda-benda celupan ungu.  Kolonialisasi berlangsung juga di Tyre yang kemudian berkembang menjadi kota besar.  Sidon dan Tyre berlomba-lomba berubah menjadi kota metropolis.  Kerajinan kaca menjadi usaha vital dan juga diperluas menjadi skala besar.  Usaha celupan juga tidak kalah berpengaruh.  Cangkang kerang Murex dihancurkan untuk diambil lapisan kulitnya kemudian diolah sebagai perhiasan kerajaan.&lt;br/&gt; Pada tahun 1855 M, sarkofagus Raja Eshmun'azar II ditemukan sebuah prasasti dalam bahasa Punis yang digunakan sebagai penutup makam.  Pada prasasti itu tertulis “Raja Sidon” kemungkinan  pada 5 SM.  Ibunya adalah seorang pendeta Astar, "Dewi Sidon.".  Dikatakan juga bahwa Dewa Eshmun dan Ba’al Sidon “Dewa Sidon” disebut sebagai Dewa Tertinggi Sidon.  Astar dinamakan Astar-Shem-Ba’al atau ‘Astar Sang Dewa’ ditemukan dalam teks Ugaritik.&lt;br/&gt; Sebelum Kristen, Sidon pernah dikuasai oleh Assiria, Babilonia, Mesir, Yunani, dan terakhir Romawi.  Herod Agung mengunjungi Sidon, sementara Yesus dan Santo Paul dikatakan pernah mengunjungi tempat ini.  Kemudian Sidon dikuasai oleh bangsa Arab lalu Usmaniyah Turki. &lt;br/&gt; Seperti kota-kota Punisia yang lain, Sidon juga menderita akibat penjajahan.  Pada akhir masa kejayaan Persia 351 SM, Sidon direbut Artaxerxes III sebelum jatuh ke tangan Alexander Agung tahun 333 SM bersamaan dengan lahirnya era Helenisme.  Di bawah kekuasaan Alexander, Sidon menikmati kebebasan yang lebih baik dan dapat menggelar kompetisi olahraga yang diikuti banyak atlet di wilayah tersebut.  Di Necropolis, ditemukan banyak peninggalan bersejarah, seperti sarkofagus Alexander, makam Lycian, dan Sarkofagus Perempuan Menangis yang kini dipamerkan di Museum Arkeologi di Istambul. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Objek Wisata di Sidon&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kastil Laut &lt;br/&gt; Kastil Laut dibangun oleh Tentara Salib pada tahun 1228 M di atas sebuah pulau kecil yang terhubungkan sebuah tanggul dengan dengan daratan utama.  Dari puncak kastil terhampar pemandangan indah pelabuhan dan daerah kota tua. &lt;br/&gt; Kini kastil itu dilengkapi dua menara yang terhubung dengan dinding.  Di dalam dinding terluar digunakan sebagai  sebuah tiang Roma sebagai penyangga seperti yang banyak terdapat pada bangunan-bangunan khas Romawi.  Menara barat lebih terjaga dari yang satunya.  Ornamen yang terdapat dalam benteng menunjukkan sisa keindahan yang masih menawan.  Setelah Acre ditaklukkan Mamluk, seluruh kastil laut dihancurkan demi mencegah tentara salib mendarat di kawasan pantai. &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Musium Sabun&lt;br/&gt; Musium ini menyimpan cerita tentang sejarah pembuatan hingga perkembangan sabun.  Para pengunjung dapat melihat bagaimana sabun minyak zaitun dibuat seaca tradisional.   Mereka juga dapat mempelajari kebiasaan tradisional "khammam" (mandi).  Pada salah satu ruang dipamerkan berbagai macam artefak yang berhasil digali, termasuk pipa tanah liat yang dibuat pada abad ke-17 sampai ke-19.  Bangunan musium dahulu merupakan pabrik sabun yang dibangun pada abad ke-17.  Di dalamnya terdapat peninggalan abad ke-13 dan direstorasi oleh Yayasan Audi dan dibuka kembali pada November 2000.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Khan el-Franj&lt;br/&gt; Khan el-Franj bermakna Caravan Pendatang.  Dibangun pada masa kekuasaan Emir Fakhreddine di abad ke-17 untuk tempat menginap pada pedagang dan penyimpanan barang.  Bangunan ini khas bangunan Khan dengan halaman persegipanjang dan air mancur dikelilingi serambi tertutup.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Istana Debbane&lt;br/&gt; Istana Debbane merupakan tempat bersejarah yang dibangun tahun 1721 M.  Dibuka untuk pengunjung yang ingin melihat arsitektur era Arab-Usmaniah abad ke-18.  Tempat ini akan dijadikan sebagai Musium Sejarah Sidon. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Souks Lama&lt;br/&gt; Pasar berkubah yang terletak di antara Kastil Laut dan Kastil St. Louis.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kastil St. Louis/Qalaat al-Muizz&lt;br/&gt; Kastil ini dibangun oleh tentara Salib pada abad ke-13 di atas reruntuhan benteng yang dibangun Fatimid, khalifah Al-Muizz.  Terletak di selatan Souk Lama di dekat Bukit Murex &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Kuil Eshmun&lt;br/&gt; Kuil Dewa Penyembuh, Eshmun, dibangun pada abad ke-7 BC.  Terletak di utara Sidon dekat Sungai Awali.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-206681566200659743?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/206681566200659743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=206681566200659743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/206681566200659743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/206681566200659743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/sidon.html' title='SIDON'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-5347826295601867938</id><published>2008-09-03T08:04:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T08:04:30.586+07:00</updated><title type='text'>SADDAM: SANG DIKTATOR NOVELIS</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Elias Khoury&lt;br/&gt;&lt;br/&gt; Menurut kabar yang beredar, Presiden Irak - Saddam Husein, baru saja menerbitkan novel perdana berjudul “Zubayba wa al-Malak” (Zubayba dan Sang Raja).  Dia merupakan pemimpin Arab kedua yang terjun ke dalam khasanah novel dan fiksi.  Beberapa tahun lalu Presiden Libya - Muammar al-Qaddafi telah menerbitkan sebuah antologi cerpen.&lt;br/&gt; Seperti berita yang dilansir Kantor Berita Prancis, novel setebal 160 halaman tersebut dianggap mewakili nilai nasionalisme.  Penulis ditempatkan sebagai penutur ketiga dengan penekanan bahwa novel tersebut ditujukan kepada penulis.  Pernyataan tersebut semakin diperkuat munculnya kata ganti kepemilikan merujuk pada sang presiden.  Pada bagian awal novel tersebut dinyatakan: “Aku orang Irak sebatang kara di dunia ini.”  Apa yang mengusiknya sampai menulis novel ini?  Benarkah pemimpin hebat ini gelisah?  Novel ini berisi namanya, foto, patung, dan teriakan lantang.  Buku ini memperlihatkan kesetiaan pengikutnya.  Lalu muncul pertanyaan, mengapa Saddam Hussein seolah menggambarkan akhir kejayaannya dalam karangan yang rumit?&lt;br/&gt; Saddam pernah meminta seorang novelis menuliskan sejarah hidupnya.  Berkat tulisan tersebut Abd al-Amir al-Mala meraih penghargaan atas loyalitasnya pada sang presiden.  Novel biografi “Hari-Hari yang Panjang” diterbitkan menjadi novel bersekuel kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Mesir, Toufic Salih, yang sebelumnya menggarap karya besar “Al makhdoun” (Sang Penipu). &lt;br/&gt; Akan tetapi, semua itu belum membuat Saddam puas.  Dia menyadari ada hal-hal seputar dirinya yang tak diketahui oleh si penulis biografi sehingga mendorongnya menjadi penulis.  Orang-orang Irak akan menemukan nuansa kesusasteraan yang sedikit berbeda dari yang biasa. &lt;br/&gt;     Mengapa para pemimpin Arab yakin bahwa sastra merupakan salah satu media abadi hingga kisah mereka perlu disampaikan melalui novel padahal sosok Saddam ditampilkan luar biasa dalam film.  Kabarnya, salah satu adegan dalam film tersebut tidak berkenan di hati sang presiden.  Sutradara pun dipaksa mengubah alur cerita saat tokoh memperlihatkan raut wajah kesakitan begitu menjalani operasi kecil tanpa obat bius ketika terjadinya percobaan pembunuhan atas Kolonel Abd al-Karim Qassem.  Dokter yang merawat Saddam menyatakan bahwa sang presiden sama sekali tak merasa kesakitan.  Sang presiden bersikukuh ingin menuliskan rasa sakit yang tak pernah dirasakannya.  Bagaimana mungkin dia menilai negaranya hanya dari sudut pandangnya sendiri? &lt;br/&gt; Saddam tetap menulis, lalu muncul di TV seraya memperkenalkan bukunya.  Keesokan harinya para penyair, penulis, dan kritikus datang memuji-muji karyanya sebagai buku yang unik.  Mungkin juga tercetus ide untuk menambahkan soundtrack ke dalam novelnya.&lt;br/&gt; Mengapa pemimpin militer ini menjadi gemar menulis?  Bisa jadi penjelasannya terkait dengan asal-muasal gerakan kudeta yang dimulai oleh para penulis maupun individual yang menggemari sastra, misalnya Zaki al-Arsuzi, seorang pendiri Partai Baath yang juga seorang ahli bahasa.  Michel Aflaq adalah seorang penulis fiksi.  Antoun Saadeh, pendiri Partai Nasionalis Syiria, adalah seorang kritikus sastra.&lt;br/&gt; Di sisi lain, para generasi pendiri (ed: partai) tersebut digantikan oleh generasi yang mengedepankan militer sebagai basis kekuatan.  Walaupun tak logis, sastra merupakan bidang yang terkait dengan kudeta serta kediktatoran.  Bisa jadi disebabkan adanya kesamaan bentuk penulisan karya sastra dengan laporan intelijen.  Ada sebuah perpaduan ganjil diantara keduanya.  Rezim ini pada awalnya terdiri dari kalangan penulis kreatif menjadi penulis intelijen, lalu berubah menjadi penulis fiksi.  Dua tipe ini terjalin dalam keterkaitan yang ganjil.  Pada tahun 1980 perubahan menuju pada pembentukan teori estetika ala Partai Baath.&lt;br/&gt; Dunia kekusasteraan semakin terombang-ambing dengan perpaduan ini.  Para penulis Mesir dipenjara, para penulis Irak diasingkan, penangkapan dan pembunuhan terjadi.  Kesusasteraan Syria mengalami kemunduran.  Rezim Teluk, monarki, Emirat Arab, dan Syekh nyaris hanya satu-satunya.  Ini merupakan akibat pemerintah militer yang merasa menjadi bagian dari lingkungan budaya.  Guru-guru SMP yang mendirikan partai politik nasionalis melihat militer sebagai murid yang cemerlang saat dianggap sebagai jalan menuju kekuasaan.  Ketika militer mendapatkan kekuasaan, sastra akan menjadi alat pencapaian.  Seberapa besar peran sastra ketika pencapaian itu musnah?  Seberapa besar peran sastra bagi rezim yang akan membebaskan Palestina dan menciptakan persamaan di masyarakat?  Pada akhir transformasi, militer akan tunduk pada dominasi masyarakat sehingga menggoyahkan struktur sosial dan mengubah negara hanya berisi satu pemimpin tanpa adanya kementerian.&lt;br/&gt; Ketika sang presiden menyadari kekosongan dalam pemerintahan, kepala yang tertunduk, dan pujian semu, barulah dia mulai menulis.  Haus akan kekuasaan dan kemenangan sulit diceritakan oleh penulis biasa yang kerap merendahkan diri.  Sang pemimpin perlu menuliskan kisahnya sendiri serta menjadi inspirasi para penyair.&lt;br/&gt; Dalam kesendirian, sang diktator hanya melihat bayangan dirinya sendiri.  Dia menciptakan adegan seorang laki-laki berada di tengah-tengah ribuan gambar dirinya sendiri.  Di tengah begitu banyak cermin dan mendengar suaranya yang mengajukan harapan.  Negeri itu hanya sebuah lembah yang memperdengarkan gema suaranya.  Dia membayangkan dirinya sebagai Tuhan yang dapat melakukan apapun.  Dia mencari bulan kemudian marah seperti Kaisar Romawi dan Kaligula.  Menghanguskan bumi seperti Hitler atau menulis sastra seperti yang para pemimpin Arab lakukan. &lt;br/&gt;  Barangkali dia dipaksa menulis buku yang jauh dari surealisme novel Arab.  Novel ini menyisakan kerumitan yang berat.  Tak termasuk karya Abd al-Rahman berjudul Kota Garam dan Tanah Kegelapan, yang menyisakan kegilaan sebuah negara yang nampak dari penulisan.&lt;br/&gt; Ketika penduduk tidak menulis, para pemimpin yang akan menulis.  Diktator akan menyertakan dirinya dalam tragedi berdarah di Arab, bahkan mendominasinya. &lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Translated from the Arabic by Elie Chalala &lt;br/&gt;This article appeared in Al Jadid Magazine, Vol. 6, No. 33 (Fall 2000) &lt;br/&gt;Copyright (c) 2000 by Al Jadid&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muallaqat Projection of Arab Culture&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-5347826295601867938?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/5347826295601867938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=5347826295601867938' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/5347826295601867938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/5347826295601867938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/saddam-sang-diktator-novelis.html' title='SADDAM: SANG DIKTATOR NOVELIS'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7603337057625710586.post-1960936071524313581</id><published>2008-09-03T08:02:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T08:03:10.215+07:00</updated><title type='text'>LUXOR</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tidak aneh lagi jika Luxor disebut sebagai objek wisata paling menarik di Mesir, karena sejak Dinasti terakhir Yunani dan Romawi telah ditujukan untuk tempat wisata.  Luxor dilengkapi fasilitas akomodasi memadai.  Bisnis ini telah siap melayani para palancong dari berbagai negara yang ingin mengunjungi wilayah di turunan lembah sungai Nil. &lt;br/&gt;  Di kawasan Luxor terdapat tiga jalan utama yaitu Syaria al-Mahatta, Syaria al-Karnak, dan Corniched di sebelah Nil.  Syariah al-Mahatta terletak di depan stasiun KA yang memanjang dari Nil sampai taman di kuil Luxor. Syariah al-karnak atau Maabad al-karnak ,yang berarti Jalan Kuil karnak, membentang sepanjang Nil mulai dari Kuil Luxor hingga Karnak. Demikian pula Syariah al-Karnak atau disebut Syariah al-Markaz yang memotong jalan Syariah al-Mahatta.  Jika menuju selatan atau  Syariah al-Lokanda akan mengelilingi kuil.  Di sepanjang jalan raya ini  dapat ditemukan plang warna-warni restoran dan kafe seperti pasar murah tempat suvenir khas Mesir dijual.  Tidak jauh dari sana adalah wilayah Alabaster sebagai pusat bank-bank negara Barat.  Selain itu pemandangan unik penduduk lokal yang memasak dengan mempergunakan pot tanah liat dapat ditemukan di sana. &lt;br/&gt;   Jumlah penduduk Luxor saat ini mencapai 150.000 jiwa dan dikembangkan dengan otoritas otonomi yang berbeda dari kota-kota lain di Mesir.  Para turis mengira bangunan-bangunan yang ada di Luxor merupakan bangunan lama, seperti Bank Nasional (dekat Istana Musim Dingin), spa di selatan kantor polisi hingga stasiun KA dibangun dengan gaya ala kunstruksi kerajaan Fir’aun.  Pada kenyataannya, semua bangunan tersebut merupakan bangunan baru setelah era nasionalisasi dan diperkuat dengan penemuan makam Tutankhamun oleh Howard Carter.  Secara keseluruhan kota ini memenuhi semua kebutuhan pariwisata, yaitu hotel, bar, klub malam, serta restoran&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada sebuah bank lokal di salah satu tempat pemberhentian pertama di Kuil Luxor yang dibangun oleh Amenofis III.  Jika mengarah selatan Sharia al-Karnak mencapai kuil lalu dihubungkan ke Kuil Karnak melalui jalan bebatuan yang disebut Dromos.  Jalanan ini dibangun oleh Nectanebo I, dengan diletakkannya Sphinx pada sisi jalan.  Di depan Kuil Luxor, Dromos benar-benar dipelihara.  Di jalan masuk ada sebuah kapel Romawi yang terbuat dari batu bata tempat pemujaan dewa Serapis.  Dibangun pada masa kekuasaan Hadrianus.  Ada sebuah jalan setapak mengarah ke sungai Nil  kemudian menuju kompleks kuil. &lt;br/&gt;Setelah mengunjungi Luxor, kembali menyusuri Sharia al-Karnak menuju utara melewati Karnak yang menurun.  Di dekat kantor polisi dekat makam ada mesjid El-Mekashkesh yang tak lain adalah mesjid tertua di kota itu dan juga tempat wisata utama.  Di sana terdapat makam salah satu ulama yang konon merupakan rahib muallaf.  Di daerah sana juga ada gereja dan sekolah khusus laki-laki dan perempuan.  Di luar kawasan tersebut dibangun gereja Basil Koptik &lt;br/&gt; Dari kantor polisi menuju Korniche terdapat Hotel Istana Mina yang berhadapan dengan Musium Mumi, tempat semua hal mengenai mumi dapat diketahui di sana.  Jika menuju ke utara akan sampai di Karnak.&lt;br/&gt;Sebelum mencapai Karnak terdapat Musium Luxor yang perlu dikunjungi untuk menambah pengetahuan.  Di dalam musium kecil ini terdapat banyak peninggalan dari tempat-tempat di sekitarnya dan menjanjikan banyak sekali pengetahuan baru seputar monumen-monumen yang akan dikunjungi berikutnya. &lt;br/&gt;Dari sana kembali ke Sharia al-Karnak menuju utara sampai Karnak, menyeberangi sebuah jembatan barulah sampai di daerah penggalian Dromos yang melewati sebuah desa.  Setelah itu diteruskan menuju Kuil Mut, tempat Dromos lainnya berada sampai di di gerbang Pylon ke-10.  Perjalanan berakhir di makam dua orang ulama, Sidi Ahmed dan Sidi Ali.  Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Departemen Purbakala menuju pintu masuk Kuil Karnak.  Jalan ini dibangun sepanjang kanal yang menghubungkan Nil dengan Kuil.  Ketika melewatinya ada sebuah dermaga masa Romawi dan setelah melewatinya ada jalan beraspal dua jalur menuju bank sungai.  Pembatas jalan merupakan dinding batu yang dibangun pada masa pemerintahan Taharqa.  Setelah melewati jalanan tersebut terdapat Kapel Achoris tempat penyambutan kapal Amun saat ada perayaan. &lt;br/&gt;&lt;/div&gt; &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7603337057625710586-1960936071524313581?l=author-ina-editingresult.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/feeds/1960936071524313581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7603337057625710586&amp;postID=1960936071524313581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/1960936071524313581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7603337057625710586/posts/default/1960936071524313581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://author-ina-editingresult.blogspot.com/2008/09/luxor.html' title='LUXOR'/><author><name>Nisrina Lubis</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
